
Flotilla menuju Gaza lahir dari rahim kepedulian.
Ia tumbuh dari air mata yang tak sanggup lagi menunggu kapan berhentinya pembantaian.
Ia hadir karena dunia gagal dalam penyelamatan.
Ia berangkat dan disatukan oleh kemanusiaan.
Namun ia dicap berbahaya.
Padahal yang ia bawa bukan peluru,
bukan senjata.
Susu formula untuk sang balita.
Roti untuk yang lapar.
Selimut untuk yang kedinginan.
Obat untuk yang sekarat.
Flotilla adalah perahu nurani.
Jangkarnya adalah hati.
Layarnya adalah doa.
Geladaknya adalah idealisme.
Haluan dan buritannya adalah kemanusiaan.
Ia menantang lautan dan blokade, demi satu pesan:
Jika negara-negara di dunia gagap dalam bertindak, maka rakyatnya-lah yang akan bergerak.







