
Seorang nabi pernah meninggalkan umatnya dalam kesal.
Belum ada perintah, tapi beliau pergi.
Melaut dan menjauh, mencari tenang.
Namun seekor ikan menelannya.
Di dalam kegelapan, beliau berdoa.
Wahai Tuhanku, sungguh aku berdoa di tempat yang belum pernah ada manusia sebelumku berdoa — dalam tiga kegelapan:
kegelapan perut ikan,
kegelapan lautan,
dan kegelapan malam.
Namun beliau tak meminta untuk diselamatkan.
Beliau terlalu malu untuk itu.
Beliau hanya memuji Tuhannya.
Memuji kesempurnaan-Nya.
Seolah berkata:
Engkaulah yang suci nan sempurna,
akulah yang salah, akulah yang zalim.
Maka Tuhan pun menyelamatkannya.
Mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya.
Dan kemarin, saat pertama kali saya mendengar lirik Feby Putri, entah mengapa saya langsung teringat kisah itu. Sebuah untaian bait yang menghujam jiwa:
“Tiada yang meminta seperti ini,
tapi menurutku Tuhan itu baik.
Merangkai ceritaku sehebat ini,
tetap menunggu dengan hati yang lapang.
Bertahan dalam macamnya alur hidup,
sampai bisa tiba bertemu cahaya.”
Mungkin manusia memang harus tenggelam dulu, untuk mengenal arah pulang.
Harus lenyap dalam gelap, untuk benar-benar mengenal cahaya.
Dan di sanalah tersimpan makna yang dalam:
bahwa tidak semua yang menelanmu ingin menghancurkanmu.
Sebagian hanya sedang diperintah
untuk membawamu kembali kepada Tuhan.
Karena menurutku, Tuhan itu (Maha) baik.







