
Filsuf bola pernah berkata:
“Setiap tim yang masuk ke final, datang untuk menang. Tapi jika ia datang untuk kalah, jangan-jangan ia ingin menang taruhan.”
Final selalu memiliki hukum alamnya sendiri.
Tim yang sampai ke sana, betapapun sejarahnya, tak wajar menargetkan perak.
Terkadang perak hanyalah nama lain dari kekalahan yang diperhalus.
Ambil contoh: PSG, sang juara bertahan Champions League, pasti menargetkan juara lagi.
Terlebih lagi, skuadnya lengkap, pelatih dan manajemennya pun sama.

Dan Inter, yang dikalahkan PSG di final kemarin, tentu menargetkan juara pula.
Terlebih, sebagai penebusan kegagalan di final dua kali dalam 5 tahun terakhir.
Jika manajemen Inter tiba-tiba datang ke locker room lalu berkata bahwa target mereka hanyalah menjadi finalis atau cukup meraih perak, niscaya mereka akan “dirujak” oleh Lautaro dan kawan-kawan.
Karena final bukan tempat mereka yang puas menjadi nomor dua, apalagi bagi yang pernah juara.
Dan jika Inter kembali ke final Champions League tahun ini, semoga rezekinya Inter mengangkat trofi itu sekali lagi.







