
Sejarah itu tidak acak. Ia bergerak dalam pola yang terus berulang.
2000 tahun lalu, Thucydides mengingatkan bahwa kekuatan lama, cepat atau lambat, akan berhadapan dengan kekuatan baru.
Ketegangan ini membuat konflik nyaris tak terhindarkan. Inilah yang kerap disebut “Perangkap Thucydides”.
Berabad-abad kemudian, Ibnu Khaldun menjelaskan mengapa sebuah negara yang kuat bisa melemah.
Bukan karena serbuan musuh dari luar, tetapi karena ‘asabiyyah-nya runtuh dari dalam.
Solidaritas melemah. Moral kolektif memudar. Perbedaan meruncing, membawanya mendekati konflik saudara.
Lalu Ray Dalio datang dengan data. Maha data.
Bukan satu abad, tetapi 500 tahun sejarah dunia.
Dan ia menemukan pola yang sama, berulang tanpa henti:
Kekuatan baru lahir dari rahim konflik.
Menikmati masa damai dan kemakmuran.
Berutang berlebihan.
Ketimpangan melebar.
‘Asabiyyah mengecil.
Konflik internal membesar.
Dan akhirnya… benturan dengan kekuatan yang (lebih) baru.
Tiga pemikir.
Tiga zaman.
Satu pola besar sejarah.
Ya, peradaban tidak tumbang karena kebetulan.
Ia runtuh ketika peringatan sejarah diabaikan.
Dan manusia kembali mengulangi pola yang sama sambil meyakinkan diri bahwa dia “special”, dia pengecualian dan kali ini akan berbeda.



