
Pada 1971, penulis Clifford Irving mendatangi kantor penerbit buku di Amerika dan membawa kabar luar biasa.
Howard Hughes, pesohor yang amat tertutup, katanya telah memilih Irving untuk menulis otobiografinya.
Irving membawa surat dan stempel yang diklaim berasal dari Hughes.
Penerbit pun percaya. Tapi masalahnya hanya satu.
Howard Hughes tak pernah menulis surat itu.
Ia tak pernah diwawancarai.
Jangankan bertemu, kenal pun tidak ia dengan Clifford Irving.
Kisah ini menunjukkan bagaimana pencatutan nama bekerja.
Orang melihat nama besar, lalu mengira pemilik nama pasti terlibat.
Nama besar Hughes meyakinkan penerbit.
Nama besar Hughes membuat dokumen tampak benar.
Karena itu, sebelum bertanya,
“Mengapa tiba-tiba Presiden Macron menulis paper tentang Pesantren?”
pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Apakah benar Presiden Macron yang menulisnya?”
Sebab pencatutan tidak berbicara dengan suaranya sendiri.
Ia meminjam nama orang lain agar terdengar benar.





