
Ada yang terkikis dari adab bangsa ini ketika seseorang dengan mudah menuduh, menghakimi, dan merendahkan martabat orang lain di ruang publik.
Kita sering menyebut diri sebagai bangsa beradab.
Tapi adab tidak diukur dari klaim. Ia diuji dalam ucapan dan tindakan.
Seperti melempar batu hingga memecahkan kaca rumah orang lain, pecahannya tidak berhenti pada satu titik.
Ia menyebar, melukai bukan hanya yang dituju, tetapi juga keluarga, kolega, dan nama baik yang dijaga bersama.
Karena itu, etika menghadirkan pagar: menjaga lisan dan berprasangka baik (husnudzon).
Dalam tradisi filsafat klasik, dikenal tiga pertanyaan sebelum berbicara:
apakah ini benar,
apakah ini baik,
dan apakah ini perlu.
Dalam Islam, batas itu ditegaskan:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sungguh sebagian prasangka itu adalah dosa.” (Q.S. Al-Hujurat: 12)
Karena pada akhirnya, menjaga lisan bukan sekadar soal benar atau salah, tapi tentang menjaga martabat manusia dan peradaban itu sendiri.
Ya, kebebasan berbicara tanpa adab bukan kekuatan, melainkan kemunduran peradaban.





