
El Niño.
Cuaca panas.
Angin.
Semua itu memang membuat hutan lebih mudah terbakar.
Tapi sebuah studi di Nature Geoscience mencatat bahwa di Kalimantan, kebakaran besar baru muncul sejak 1980-an, meski kekeringan berat sudah terjadi sebelumnya.
Para peneliti mengaitkan perubahan itu dengan perubahan penggunaan lahan dan aktivitas manusia.
Artinya, cuaca memperbesar risikonya. Tapi di Indonesia, penyalaan api didominasi aktivitas manusia.
Jadi mungkin kita perlu berhenti hanya bertanya:
“Mengapa alam begitu panas?”
Dan mulai bertanya:
“Siapa yang menyalakan apinya?”
Kemarau bisa mengeringkan hutan. Tapi kemarau tidak pegang korek api.
Referensi: Field, van der Werf & Shen, Nature Geoscience (2009); Tan, Carrasco & Taylor, International Journal of Wildland Fire (2020).



