
Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya berlangsung di medan perang. Ia juga diperjuangkan di ruang-ruang diplomasi dunia.
Para perintis diplomasi (dan diaspora) Indonesia di Timur Tengah memahami besarnya pengaruh Mufti Besar Palestina, Amin al-Husseini.
Karena itu mereka menjalin dukungan darinya untuk memperkenalkan perjuangan Indonesia kepada negara-negara Arab dan mendorong pengakuan kemerdekaan Indonesia di Liga Arab.
Dengan reputasinya yang disegani, beliau membantu membuka dukungan politik bagi Republik Indonesia.
Beliau bahkan hadir dalam acara pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir pada 1947 bersama delegasi Indonesia yang dipimpin Haji Agus Salim.
Dukungan juga datang dari tokoh Palestina lainnya, Muhammad Ali Taher. Ia terlibat langsung dalam pembentukan Panitia Pembela Indonesia di Kairo pada Oktober 1945.
Ali Taher bahkan menyumbangkan seluruh simpanannya di Bank Arabia untuk membantu perjuangan Indonesia.
“Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia,” ujarnya.
Kisah solidaritas ini dicatat oleh diplomat Indonesia pada masa awal kemerdekaan, M. Zein Hassan, dalam bukunya Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, serta juga disebut dalam buku Mata Air Keteladanan karya Yudi Latif.
Sejarah mengingatkan kita: Kemerdekaan Indonesia juga diperjuangkan oleh sahabat-sahabat jauh yang percaya pada kemerdekaan Indonesia.
Ini adalah fakta sejarah—bukan meme media sosial, seperti yang diklaim oleh mereka yang enggan membaca sejarah bangsanya.





