
Seorang Yahudi melihat tetangganya, seorang Muslim, sedang asyik melahap daging panggang di siang hari Bulan Ramadan.
Aromanya menggoda. Ia pun mendekat.
“Tetanggaku, bagilah sedikit daging itu. Gurih sekali sepertinya,” pinta si Yahudi.
“Lho, bukankah sembelihan kami tak halal bagi kalian kaum Yahudi?” balas si Muslim.
“Lha, aku ini Yahudi KTP, sama seperti kamu — Muslim KTP,” jawabnya setengah tertawa.
Terkadang, kita keras menjaga simbol. Tapi lunak menjaga kewajiban.
Kita bangga menulis “Islam” di dokumen. Tapi ragu menulis taat dalam kehidupan.
Ramadan tak datang membawa lapar. Ia datang membawa cermin.



