
Ada sahabat yang hadir.
Dan ada sahabat yang mengantarmu sampai puncak, lalu mengangkatmu dengan bangga.
Seperti Khabib dan Islam.
Dibesarkan oleh guru yang sama.
Ditempa di ruang yang sama.
Diajari untuk menang tanpa saling menjatuhkan,
dan untuk naik tanpa menutup tangga bagi yang lain.
Ketika ayahnya wafat, Khabib tidak pergi.
Ia justru mengambil peran, dari seorang juara dunia menjadi guru,
dari pendekar tak terkalahkan menjadi pelatih yang setia.
Melatih, menempa, dan membimbing Islam
dengan cinta seorang kakak dan api seorang pemenang.
Dan ketika Islam menjadi juara dua divisi, Khabib-lah yang mengalungkan sabuk itu dan menggendongnya.
Tak ada ego pribadi, hanya melanjutkan legasi ayah dengan satu pesan sunyi:
“Terbanglah, sahabatku. Aku bersamamu. Kemenanganmu adalah kemenanganku.”
Persahabatan seperti ini bukan tentang beladiri.
Ini tentang jiwa yang besar,
tentang hati yang lapang,
dan tentang keyakinan bahwa cahaya tidak berkurang,
ketika dinyalakan di tangan orang lain.
Semoga Allah memberi kita sahabat seperti ini. Dan menjadikan kita sahabat seperti ini.







