
Beban stres yang dipikul seorang pemimpin, seorang CEO, seorang bos memang berat, tapi lebih berat lagi bagi pekerja yang di bawah.
Itulah salah satu kesimpulan mengejutkan dari studi Whitehall yang melibatkan lebih dari 20 ribu pegawai di Inggris.
Ya, studi Whitehall mengungkapkan stres tertinggi bukan di puncak, tapi justru menimpa mereka yang berada di dasar struktur.
Mereka yang gajinya terkecil.
Yang kuasanya nyaris nol.
Yang hanya bisa “menelan” saja, tanpa ruang untuk menjelaskan.
Mereka yang tidak punya ruang untuk melampiaskan, tanpa “privilege” healing.
Mereka yang tak punya pilihan untuk berhenti.
Karena jika mereka kehilangan pekerjaan, maka runtuhlah kehidupan mereka. Runtuhlah keluarga mereka.
Untuk bertahan, mereka pun menelan segalanya, sendirian.
Tertekan, di situlah tubuh mulai rusak perlahan.
Stres kronis merusak jantung, menggerogoti imun, mempercepat penuaan, dan akhirnya membuat mereka lebih cepat meninggal.
Whitehall menyebutnya social gradient in mortality. Yang paling bawah adalah yang paling rapuh.
Maka berbaik hatilah kepada yang di bawah.
Setitik kebaikan, setitik pemaafan, boleh jadi adalah kebahagiaan sebesar dunia bagi mereka.
Benarlah wasiat Ali bin Abi Thalib ra.:
“Akhlak seseorang tampak dari caranya memperlakukan mereka yang di bawahnya dan tidak dapat mendatangkan manfaat bagi dirinya.”
Ini adalah nasihat untuk diri saya sendiri. Jika bermanfaat untuk Anda, alhamdulillah.
Selamat shalat Jumat. Tak perlu bawa tumbler ke masjid, simpan saja di kantor.







