
Agustus 1953.
CIA Amerika Serikat menjalankan Operasi Ajax. Menggulingkan Mohammad Mossadegh, pemimpin Iran yang dipilih secara demokratis.
Ya, Mossadegh dipilih secara demokratis.
Februari 2026.
Dunia kembali menyaksikan serangan terhadap Iran.
Bagai kaset lama yang diputar ulang, narasi itu terdengar lagi: keamanan, pencegahan, perubahan rezim.
Rupanya tak peduli soal demokratik atau teokratik. Sama saja.
Jika tak sejalan dengan kepentingan kekuatan besar, ia menjadi sasaran. Menjadi bulan-bulanan.
Sementara itu, Netanyahu tersenyum puas di pojokan. Inilah mimpi besarnya.
Namun, ada yang berbeda kali ini. Dorongan untuk perubahan rezim tidak lagi samar, ia diucapkan begitu vulgarnya.
Entah siapa yang akan unggul dalam babak ini. Tapi sejarah mengajarkan satu hal yang tak pernah berubah:
Intervensi melahirkan resistensi.
Resistensi melahirkan radikalisasi.
Dan kekerasan hari ini sering kali menjadi api besar yang menyala kembali esok hari.



