
Ratusan tahun lalu, Niccolò Machiavelli mengingatkan: perang mudah dinyalakan, tapi hampir tak pernah mudah dipadamkan.
Ya, seorang pemimpin bisa memberi perintah perang dalam keadaan gegabah maupun marah.
Satu keputusan. Satu blunder besar, dan dunia pun berubah.
Tapi perang… bukan saklar on and off sederhana.
Kita mungkin ingin berhenti, tapi lawan yang belum merasa impas belum tentu mau berhenti.
Lukanya masih menganga. Dendamnya belum terbayar.
Belum lagi aliansi.
Sekutu datang dengan kepentingannya sendiri, dengan agenda yang tak selalu sejalan.
Di titik itu, perang bukan lagi soal strategi, tapi soal luka dan dendam yang diwariskan.
Bukan lagi soal menang atau kalah, tapi harga diri bangsa yang dipertaruhkan, meski desa dan kota porak-poranda.
Negosiasi untuk mengakhiri perang tidak pernah mudah, karena selalu ada harga yang harus dibayar, ludah yang harus ditelan, dan ego yang harus ditundukkan.
Sejarah beberapa dasawarsa terakhir penuh dengan “military intervention” yang direncanakan hanya berminggu-minggu, berlanjut menjadi berwindu-windu.
Irak–Iran. Amerika di Irak. Rusia–Ukraina. Dan lainnya.
Dunia dan anak-cucu kita betul-betul butuh pemimpin yang paham bahwa tidak semua perang layak untuk dimulai.





