
Beberapa waktu lalu, dalam diskusi di televisi dan podcast, saya pernah memperkirakan bahwa porsi pemain diaspora dan/atau pemain kelahiran luar negeri di Piala Dunia 2026 akan meningkat dan mendekati 20%.
Alasannya sederhana: pada Piala Dunia sebelumnya di Qatar, angkanya sudah sekitar 16%.
Ternyata, trennya bergerak lebih cepat.
Pada Piala Dunia 2026, porsinya mencapai 23,6%. Hampir 1 dari 4 pemain lahir di negara berbeda dari negara yang mereka bela.
Artinya, dari total 1.248 pemain, jumlahnya mendekati 300 orang.
Bagi saya, ini bukan sekadar statistik. Ini tanda bahwa perebutan talenta (talent war) dalam sepak bola global semakin nyata.
Ayyoub Bouaddi, yang mengingatkan saya pada gaya permainan Sergio Busquets, adalah salah satu contohnya.
Pernah membela Prancis U-21, kini ia membela Maroko di Piala Dunia.
Pelajarannya positif untuk Indonesia.
Kita perlu membina dan menjaga talenta terbaik di dalam negeri, sekaligus menjangkau talenta diaspora Indonesia di seluruh dunia.
Protect our talents. Reach our diaspora. Combine the best of both worlds.
Dengan pembinaan yang hebat, scouting yang rapi, diplomasi talenta yang profesional, dan kompetisi yang semakin ketat, Piala Dunia 2030 layak menjadi target yang kita perjuangkan bersama.
Bismillah. Indonesia menuju Piala Dunia 2030. Yes, we can 🦅🇮🇩





