
Ada seseorang duduk di balik kemudi mobil di showroom.
Tangannya memegang setir. Wajahnya serius, seolah-olah sedang membawa penumpang keliling kota.
Padahal mobilnya parkir.
Kuncinya bukan di tangannya.
Para penumpang tak pernah memilihnya untuk mengemudi.
Begitulah kira-kira ketika orang membentuk struktur sendiri, membagi kursi sendiri, dan memberi jabatan sendiri.
Kritik itu sah.
Rapor publik itu penting.
Mengawasi pemerintah itu mesti.
Namun dalam negara, mandat tidak lahir dari imajinasi.
Kritik adalah hak.
Mandat adalah amanah konstitusional.





