
FIFA sempat punya rencana untuk menjual hingga 20% saham entitas komersial kompetisinya kepada investor.
Nah, kompetisinya ini mencakup Piala Dunia (putra/putri), Piala Dunia U-17, U-20, hingga Piala Dunia Antarklub.
Argumen FIFA: sepak bola global butuh modal besar agar pembangunan tidak hanya dinikmati negara-negara kaya.
Dengan dana tambahan, federasi lain dapat memperoleh pendanaan yang lebih besar untuk development-nya.
Sementara itu, kendali kompetisi tetap berada di tangan FIFA sebagai pemilik mayoritas (80%).
UEFA tidak setuju.
Argumen UEFA: Piala Dunia bukan sekadar produk investasi, tapi warisan sepak bola yang hanya “dititipkan” kepada para pengelolanya.
Begitu investor masuk, logika bisnis akan bekerja lebih dominan: lebih banyak pertandingan, hak siar, sponsor, tiket, dan pendapatan.
Risikonya juga nyata.
Kalender semakin padat, pemain semakin terkuras, dan potensi cedera meningkat.
Akibatnya, laga besar pun kadang antiklimaks dan tidak terasa besar karena para pemain datang dalam kondisi kelelahan.
Belum lagi biaya hak siar dan harga tiket yang berpotensi semakin mahal, yang juga menjadi keluhan dalam beberapa tahun terakhir.
Proposal ini memang tidak jadi.
Namun, perdebatannya menyentuh persoalan yang nyata: kebutuhan pembiayaan dalam mengelola sepak bola, sekaligus pertanyaan yang lebih asasi, “sepak bola ini sebenarnya milik siapa?”
Sepak bola memang dapat dikelola secara komersial. Namun, ia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai barang dagangan.
Sepak bola juga tentang kualitas permainan, keselamatan pemain, keterjangkauan bagi suporter, dan warisan yang harus dijaga. Atau bahasa kerennya, “football heritage”.






