
27 Agustus 1883. Krakatau meletus.
Gelombang raksasa menghantam mercusuar Fourth Point di Anyer. Sebongkah karang besar menghantam menaranya hingga runtuh.
Penjaganya selamat. Tapi istri dan anaknya tenggelam.
Ia baru saja kehilangan istri dan anaknya. Mercusuar yang dijaganya pun hancur.
Namun kapal-kapal di Selat Sunda tetap membutuhkan cahaya.
Maka, hanya dalam hitungan jam, sang penjaga kembali menjalankan tugasnya.
Sebuah lampu sementara didirikan dan dinyalakan untuk memandu kapal-kapal yang melintas.
Sejarah tidak banyak mencatat namanya. Tapi jasanya tetap MENYALA.
Boleh jadi, pengabdian adalah ketika dunia kita sendiri telah padam, tapi kita tetap memilih menyalakan cahaya bagi orang lain.
Referensi: Simon Winchester, Krakatoa; M. C. van Doorn, Nature (1884).



