Tekan ESC untuk keluar

BELI BAJU MUSLIM DENGAN DISKON NATAL?

Pertanyaan yang terkesan nyeleneh, memang. Tapi bukan berarti tak relevan dan tak patut dipikirkan. Pertanyaan ini saya lihat di postingan Pak Dosen Irwansyah Saputra. Menarik untuk digali.
Adalah Imam Abu Hanifah yang dikenal sebagai pioner dalam hal pertanyaan fikih “spekulatif” seperti hal ini.
Tinggal di kota metropolis, pluralis, dan dinamis seperti Baghdad, Imam Abu Hanifah dituntut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin tidak pernah terbesit di kota-kota tradisional Islam seperti Mekah maupun Madinah yang cenderung lebih statis dan tradisionalis saat itu.
Dalam menjawab pertanyaan di atas, saya teringat jawaban Imam Ahmad bin Hambal saat ditanya hukum menyaksikan perayaan atau festival Natal di pasar (mall).
Imam Ahmad, yang terkenal ketat terhadap masalah-masalah akidah, mengatakan boleh saja selama tidak ada aktivitas peribadatan atau hal-hal yang terkait dengan ritual di gereja.
Sang Imam kembali ditanya tentang kebolehan membeli barang di sana yang umumnya ada diskonnya (diskon Natal). Imam Ahmad mengatakan bahwa itu boleh-boleh saja.
Jadi, boleh-boleh saja berburu diskon Natal, Tahun Baru, Nyepi, Waisak, dsb. Karena yang dibeli adalah barangnya, bukan akidahnya.
Wallahu a’lam bish-shawabi.
@hamdan.hamedan on Instagram
ARAN DAN SUARANYA

Di tanah jauh, Aran memimpin negara,
Ikhtiar ubah nasib rakyat dengan kerja dan karya,
Namun suara hanya mencari cela,
Menutup mata pada prestasi yang nyata.

Ia bangun negara, mereka sebut tipu daya,
Ia bantu rakyat tak berdaya, mereka bilang hanya sandiwara,
Tangan berupaya layani rakyat tanpa jeda,
Meski suara sibuk kerdilkan fakta.

Aran, tak goyah walau dihujat,
Tahu bahwa kebaikan tak bisa dilumat,
Sejarah dipatri dari karya dan niat,
Bukan dari suara yang dipenuhi syarat.

Waktu berlalu, celaan terkubur di tanah,
Kerja Aran tak luntur oleh fitnah,
Suara sumbang pun hilang, dilupakan dalam sunyi,
Sementara Aran dikenang hingga nanti.
striker timnas semakin nyetel, sementara wasit semakin…

Jadi teringat sebuah ayat, “Dan kami jadikan sebagian dari kamu cobaan bagi sebagian yang lain.” (QS. Al-Furqan: 20)

Life isn’t always fair, but the show must go on. We will pay in full by defeating them next time, fair and square, without the interference of the referee. Bismillah 💪🏻💪🏻
CERITA LAMA

Genosida di Gaza bukanlah cerita baru,
Tapi cerita puluhan tahun luka membiru,
Di balik reruntuhan ada tangis bisu,
Dicampakkan dunia, sendiri menghadapi pilu.

Langitnya gelap, buminya luluh lantak,
Ribuan nyawa lenyap, tanpa jejak,
Di mana Barat yang lantang mendukung HAM dan Ukraina?
Kalau soal Palestina, ah itu beda cerita. 

Para pemimpin Arab menyimpan mimpi,
Menjadi Salahuddin baru nan gagah berani,
Namun ketika datang waktunya beraksi,
Hilang nyali, takut pada bayang sendiri.

Syuhada yang pergi takkan kembali,
Gaza tetap berdiri, walau hampir mati,
Dalam dentuman dan reruntuhan, ada doa sang yatim sunyi,
Menanti akhir dari luka yang tak terperi.
PENJAGA INDONESIA 

Mereka menjawab panggilan saat yang lain enggan,
Melangkah tanpa ragu, songsong bahaya di depan
Mereka bertempur dalam gelap pekat 
Agar kita dapat melihat terang, menikmati hidup yang hangat.

Mereka tinggalkan nyaman, rumah, dan pasangan tercinta 
Demi sumpah setia pada bangsa 
Di setiap langkah mereka, kita temukan arti pengorbanan,
Demi negeri ini tetap aman.

Mereka tak minta pujian atau tepuk tangan meriah,
Sekalipun mereka adalah pahlawan, dalam diam yang gagah.
Demi kita, mereka korbankan segalanya,
Di laut, di darat, dan di udara.

Tanah air ini tegak karena ada mereka di barisan terdepan,
Dalam keberanian mereka, kita temukan alasan untuk bertahan—alasan untuk melanjutkan.
Selamat ulang tahun, TNI tercinta,
Kebanggaan bangsa, penjaga Indonesia. 🇮🇩