
Tujuan akhir dari penyerangan terhadap Iran sepertinya hanya dua kemungkinan.
Perubahan rezim.
Atau melemahkan kemampuan militer Iran agar AS masuk ke meja perundingan dalam posisi yang lebih dominan.
Tetapi perubahan rezim bukan perkara sederhana.
Sejarah dan matematika menunjukkan: menjatuhkan sebuah pemerintahan hampir selalu membutuhkan pengerahan pasukan darat dalam jumlah besar.
Atau adanya oposisi domestik yang sudah relatif kuat dan siap mengambil alih.
Indikator itu tidak terlihat.
Sebagai pembanding, Irak (2003): Populasi ±26 juta jiwa, medan relatif datar.
Operasi stabilisasi saja membutuhkan 170.000 pasukan darat AS pada 2007. Dan total rotasi lebih dari 1,5 juta pasukan selama delapan tahun.
Iran (2026): Populasi ±90 juta jiwa. Wilayah dominan pegunungan dan hampir 4 kali lebih luas.
Dengan rasio stabilisasi yang lazim, kebutuhan teoritis setidaknya 1,8 juta pasukan darat.
Intinya, bukan sekadar air strike.
Mungkin ini menjelaskan mengapa Presiden Trump beberapa kali menyerukan agar rakyat Iran sendiri mengganti pemerintahannya.
Sebab jika hanya mengandalkan serangan udara, perubahan rezim hampir pasti sangat sulit dicapai.
Dalam geopolitik, hitung-hitungan selalu lebih menentukan daripada retorika atau apa yang diklaim di social media.
Kabar baiknya, selama konflik tetap terbatas pada serangan udara, ruang untuk mencegah perang yang lebih luas masih terbuka, dan konsekuensi kemanusiaan berskala besar dapat dihindari. Semoga 🤲





