
Ada setidaknya 25 angka ekonomi dan fiskal yang disebut The Economist dalam artikelnya tentang ekonomi Indonesia beberapa hari yang lalu.
Tetapi ada satu angka makro penting yang tidak disebut: pada kuartal I, Indonesia tumbuh 5,61%.
Apakah itu sekadar terlewat, atau memang sengaja dilewatkan, saya tidak tahu.
Yang jelas, Indonesia tidak bisa dibaca hanya dari sisi risiko fiskal. Indonesia juga harus dibaca dari arah transformasinya.
Ini juga bukan pertama kalinya Indonesia diragukan oleh The Economist.
Dulu Indonesia diragukan setelah krisis Asia. Pernah disebut rapuh dalam periode Fragile Five. Pernah dikritik ketika menjalankan hilirisasi.
Tetapi berkali-kali pula Indonesia menunjukkan daya tahan, adaptasi, dan kemampuannya untuk tumbuh dengan caranya sendiri.
Namun, kalau targetnya tumbuh 5%, mungkin cukup melakukan apa yang selama ini dilakukan.
Rinse and repeat. That’s it.
Tetapi bukan itu tujuannya.
Untuk keluar dari middle income trap, Indonesia perlu tumbuh lebih tinggi dalam waktu singkat: di atas 6% secepatnya, lalu mendekati 8% secara berkelanjutan.
Dan ada batas waktunya: 2035, lima tahun sebelum bonus demografi selesai.
Karena itu, berbagai program terobosan dijalankan: Danantara, hilirisasi, ketahanan FEW (food, energy, water), MBG, Kopdes, Sekolah Rakyat hingga Sekolah Garuda, dan investasi besar pada manusia.
Tentu setiap rupiah harus dijaga.
Tentu tata kelola harus diperkuat.
Tentu risiko fiskal harus dihitung.
Tetapi kehati-hatian tidak boleh berubah menjadi kelambanan.
Kalau Indonesia ingin kembali mendekati pertumbuhan 8%, Indonesia tak bisa terus mengulang cara yang mengantarkannya pada 5%.
Business as usual akan menghasilkan results as usual.
Indonesia tidak sedang berjudi dengan masa depan.
Indonesia sedang berusaha merebutnya sebelum kesempatan itu menjadi kemustahilan.





